
Bab 1: Awal dari Sebuah Niat
“Eh, kamu tahu nggak, sekarang biaya umroh udah banyak yang bisa dicicil loh?” ucap Mira sambil menyeruput kopi di coworking space.
Rafi, sahabatnya sejak SMA, menoleh dengan heran.
“Serius? Emang anak muda kayak kita bisa umroh segitu gampangnya?”
Percakapan itu sederhana, tapi nyangkut di kepala Rafi selama berminggu-minggu. Ia bukan tipe orang religius — tapi di balik tawa dan kesibukannya sebagai content creator, ada rasa hampa yang mulai sering muncul.
Mira pun sebenarnya tak kalah sibuk. Sejak resign dari kantor lama, ia lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, mencoba menata ulang hidup. Keduanya sama-sama merasa: dunia terlalu cepat, dan hati mereka mulai lelah.
Bab 2: Panggilan yang Tak Terduga
Suatu malam, Mira mengirim pesan pendek, “Aku daftar umroh, Raf. Tahun depan. Kamu ikut nggak?”
Pesan itu muncul di tengah malam yang sunyi, dan entah kenapa, hati Rafi bergetar.
Tanpa berpikir panjang, ia membalas, “Kalau Allah سبحانه وتعالى kasih jalan, aku ikut.”
Sejak hari itu, keduanya mulai rutin belajar bareng. Nonton video manasik online, baca buku tentang sejarah Makkah, dan tentu saja — riset panjang tentang jual visa umroh mandiri yang kini jadi tren di kalangan Gen Z.
Mereka tak mau terlalu bergantung. “Biar perjalanan ini terasa dari hati,” kata Mira sambil tertawa.
Dan begitulah, dua anak muda yang dulu hanya sibuk scroll Instagram, kini mulai menabung demi satu tujuan: Baitullah.
Bab 3: Dari Canda ke Tangis di Depan Ka’bah
Ketika pesawat mendarat di Jeddah, suasana hening. Tak ada kata-kata yang cukup menggambarkan perasaan itu.
Begitu kaki mereka menginjak tanah suci, air mata langsung menetes.
“Rasanya… kayak pulang,” bisik Mira pelan.
Rafi hanya mengangguk, dadanya sesak menahan haru.
Malam pertama mereka di Makkah terasa seperti mimpi. Gemerlap cahaya Masjidil Haram, lantunan doa dari segala penjuru, dan lautan manusia yang semuanya tunduk pada satu tujuan — membuat mereka tersadar: inilah titik balik hidup.
Ketika akhirnya mereka melihat Ka’bah untuk pertama kali, dunia seolah berhenti. Tak ada kamera, tak ada filter, tak ada kata-kata. Hanya hati yang bergetar.
Bab 4: Cinta yang Dihadirkan di Tempat Paling Suci
Selama di Makkah, keduanya lebih banyak diam. Bukan karena canggung, tapi karena hati sibuk berdialog dengan Tuhan.
Di sela tawaf dan doa, Rafi berkata lirih,
“Kalau aku nikah nanti, aku pengen istriku orang yang mau sama-sama ke sini. Bukan cuma liburan, tapi berjuang bareng menuju Allah سبحانه وتعالى.”
Mira tersenyum samar.
“Mungkin kamu belum sadar, tapi doa itu bisa jadi udah dikabulin.”
Rafi menatapnya — dan di antara ribuan jamaah, keduanya tahu: bukan pertemuan acak, tapi takdir yang diatur rapi oleh-Nya.
Bab 5: Gen Z dan Arti Ibadah yang Sesungguhnya
Perjalanan mereka tak sekadar fisik. Di Makkah, Rafi belajar menahan emosi, sabar dalam antrean, dan ikhlas dalam setiap langkah.
Mira belajar tentang makna tawakal, bahwa Allah سبحانه وتعالى selalu cukup bagi siapa pun yang mendekat dengan niat tulus.
Di era yang serba cepat ini, Gen Z seperti mereka justru menemukan kedamaian dalam memperlambat langkah.
Tak perlu berlari mengejar dunia, karena justru dengan berhenti sejenak, hati bisa menemukan arah.
Dan di sela perjalanan itu, keduanya berjanji: sepulang dari Makkah, hidup mereka tak akan sama lagi.
Bab 6: Kembali ke Dunia, Tapi Dengan Hati yang Baru
Setelah kembali ke Indonesia, Rafi dan Mira mulai membuat konten tentang perjalanan spiritual mereka. Tapi bukan sekadar vlog wisata — melainkan refleksi iman.
“Umroh bukan tentang tempat yang jauh,” kata Mira dalam salah satu videonya, “tapi tentang perjalanan menuju hati yang lebih dekat pada Allah سبحانه وتعالى.”
Konten mereka viral. Banyak anak muda lain yang akhirnya ikut terinspirasi dan mulai menabung.
Beberapa bahkan menghubungi mereka untuk tanya-tanya soal paket umroh digital, cara mudah mengatur dana, hingga tips mengurus jual visa umroh mandiri tanpa ribet.
Mereka sadar, dakwah masa kini tak melulu dari mimbar — bisa lewat video, tulisan, bahkan story sederhana.
Dan mungkin, itu cara Allah سبحانه وتعالى menggunakan mereka sebagai jalan hidayah.
Bab 7: Cinta, Iman, dan Masa Depan
Beberapa bulan setelah perjalanan itu, Rafi melamar Mira. Bukan dengan bunga atau cincin mahal, tapi dengan kalimat yang sederhana,
“Mau nggak, kita terus melangkah bareng — bukan cuma di dunia, tapi sampai ke surga?”
Mira menangis.
Dan di antara semua mimpi masa muda mereka, satu hal jadi nyata: cinta yang lahir dari doa, bukan dari dunia maya.
Kini mereka menjalani hidup dengan semangat baru. Rafi tetap jadi content creator, tapi isi videonya berubah. Mira membuka kelas persiapan umroh online untuk anak muda.
Keduanya jadi simbol bahwa hijrah tak menghapus gaya hidup modern — justru memberi arah baru pada semua hal.
Penutup: Hijrah Itu Romantis, Kalau Bersama Allah سبحانه وتعالى
Cerita Rafi dan Mira adalah cermin bagi banyak Gen Z di luar sana:
Bahwa spiritualitas tak harus meninggalkan modernitas. Bahwa cinta sejati tak perlu drama, cukup sejalan menuju kebaikan.
Kalau kamu mulai merasa terpanggil, yuk mulai langkah pertamamu. Cari tahu dulu biaya umroh sesuai kemampuanmu, lalu niatkan dari hati. Karena langkah kecil hari ini bisa jadi pintu menuju keajaiban esok.
Dan kalau kamu ingin perjalanan yang lebih mandiri dan fleksibel, kamu bisa eksplor pilihan jual visa umroh mandiri — cara modern buat Gen Z menunaikan ibadah dengan tanggung jawab dan kebebasan.
Karena pada akhirnya, cinta paling indah adalah yang membawa kita semakin dekat kepada Allah سبحانه وتعالى. 🤍