Menemukan Cahaya Lewat Perjalanan Umroh Mandiri

Photo by Khaled Al-Kayali on Pexels.com

Aku tidak pernah membayangkan hidup akan membawaku sejauh ini. Bertahun-tahun aku hidup dengan ritme yang sama: bekerja tanpa jeda, berusaha terlihat baik-baik saja, menyembunyikan segala kekacauan dalam hati seolah tak pernah ada apa-apa. Di permukaan aku tampak kuat, tetapi di malam hari aku selalu bertanya-tanya, sampai kapan aku harus berpura-pura?

Aku berada di titik terendah ketika gagasan untuk pergi ke Tanah Suci muncul. Bukan karena dorongan impulsif, bukan karena sedang semangat beribadah, justru sebaliknya. Aku merasa kosong, lelah, tersesat. Aku hanya ingin menemukan sesuatu yang hilang… entah apa itu. Yang jelas, aku ingin pulang. Bukan pulang ke rumah, melainkan pulang ke hati sendiri.

Perjalanan ini bukan rencana lama. Bahkan bisa dibilang tiba-tiba. Tanpa banyak persiapan, aku hanya mengikuti panggilan yang terasa begitu kuat. Namun ada alasan kenapa aku tidak mengajak siapa pun, bahkan keluarga. Aku ingin menjalani perjalanan ini sendirian, menghadapi ketakutan, kebingungan, dan luka emosional tanpa menyembunyikannya di balik senyum. Aku ingin jujur pada diri sendiri dan pada Tuhan.

Bandara menjadi saksi perjuangan pertama. Ketika rombongan jamaah lain berdiri rapi mengikuti petunjuk pemimpin grup, aku berdiri sendiri sambil menatap layar keberangkatan. Tidak ada orang yang akan mengaturkan koper untukku jika aku lupa. Tidak ada teman bicara jika aku panik. Tidak ada orang yang mengingatkan jadwal ibadah. Semua bergantung pada diriku, dan itu menakutkan sekaligus membebaskan.

Di pesawat, aku memandang keluar jendela cukup lama. Cahaya kota perlahan menghilang, berganti dengan hamparan awan gelap. Bersamaan dengan itu, aku merasakan perasaanku selama ini ikut naik ke permukaan. Ada banyak pertanyaan yang kutahan bertahun-tahun: kenapa hidupku terasa berat, kenapa doa seakan tak didengar, kenapa segala usaha rasanya sia-sia. Tapi anehnya, perjalanan ini membuatku tidak lagi marah. Aku hanya ingin mendekat.

Begitu mendarat di Madinah, udara terasa berbeda. Aku tidak mengenal satu pun orang di sekitarku, tetapi anehnya aku merasa seolah kota itu mengenalku. Dari hotel menuju Masjid Nabawi, langkahku terasa berat karena penuh harap. Ketika melihat payung-payung raksasa terbuka dan suara imam bergema, aku berhenti seketika. Ada sesuatu di dadaku yang pecah. Aku menangis, bukan karena sedih, tetapi karena merasa ditemukan.

Di Raudhah, aku berdoa tanpa memikirkan kata-kata puitis. Aku hanya bercerita tentang hidupku apa adanya. Tentang hari-hari di mana aku rapuh, tentang kecewa yang kubiarkan menggerogoti iman, tentang keinginan untuk menjadi seseorang yang lebih baik tapi selalu gagal. Aku tidak meminta dunia. Aku hanya meminta kekuatan untuk bertahan.

Beberapa hari kemudian aku menuju Makkah. Perjalanan ini menjadi titik balik yang paling kuat. Ketika Ka’bah pertama kali muncul di hadapan mata, aku berhenti berjalan seperti tubuhku kehilangan kekuatan. Semua orang di sekelilingku melangkah menuju pusat thawaf, sedangkan aku berdiri terpaku. Dalam pandangan itu, seluruh rasa bersalah, kekhawatiran, dan luka batin seakan ditarik keluar. Untuk pertama kalinya dalam hidup, aku merasakan kedamaian yang tidak tergantung pada keadaan.

Hari-hari di Makkah penuh pelajaran. Ada malam ketika aku tersesat, ada momen ketika aku kelelahan hingga hampir pingsan, ada saat ketika aku kehilangan arah sepenuhnya. Namun setiap kali kesulitan datang, selalu ada bantuan yang tak masuk logika. Seorang jamaah asing memberikan air. Seorang penjaga masjid menunjukkan jalan. Seorang pemuda dari negara lain membantu mencarikan ruang thawaf supaya aku tidak terpisah dari kerumunan. Semua terjadi tepat pada waktunya, tidak pernah lebih cepat, tidak pernah terlambat.

Di tengah perjalanan itulah aku memahami sesuatu yang sederhana namun begitu dalam. Ketika seseorang memilih melakukan umroh mandiri, ia bukan hanya bepergian sendirian. Ia sedang belajar bergantung sepenuhnya kepada Allah. Ia sedang belajar bahwa manusia bisa pergi, tetapi Tuhan tetap tinggal. Ia sedang belajar bahwa rencana terbaik selalu datang dari arah yang tidak terduga.

Di malam terakhir sebelum kepulangan, aku duduk di pelataran Masjidil Haram cukup lama. Kubawa kembali segala masalah yang pernah membuatku terpuruk, bukan untuk mengeluh, tetapi untuk berdamai. Hidup mungkin tidak akan menjadi lebih mudah setelah ini. Ujian mungkin tidak berhenti. Tapi sekarang aku tahu sesuatu yang sebelumnya tidak kuketahui: aku tidak pernah berjalan sendirian.

Saat pesawat pulang mengudara, aku menatap ke luar jendela dan tersenyum kecil. Bukan karena semua masalah selesai, tetapi karena aku tahu bagaimana cara berdiri kembali jika suatu hari aku jatuh lagi. Aku pulang bukan sebagai orang yang paling baik, tetapi sebagai orang yang paling jujur terhadap dirinya sendiri.

Perjalanan ini mengubahku tanpa banyak suara. Tidak ada pengumuman besar, tidak ada selebrasi. Hanya hati yang pulang ke tempat seharusnya.

Dan jika suatu hari aku merasa kehilangan arah lagi, aku tahu harus ke mana mencari jalan pulang. Tanah Suci bukan hanya tempat untuk didatangi, tetapi tempat untuk diingat. Karena di sanalah doa pertama kali terasa seperti jawaban.

Leave a comment